Alasan Kenapa Metromini Bukan Lagi Idola

Alasan Kenapa Metromini Bukan Lagi Idola

Jakarta adalah ibu kota Indonesia, sebuah ibu kota yang menurut kami masih tertinggal dari segi transportasi umum dibanding dengan ibu kota negara lain, misal area ASEAN.

Salah satu bahasan yang paling menarik adalah Metromini. Ya, kendaraan bus merah ini memang kontroversial. Kehadiran nya dinanti, sekaligus dibenci banyak pihak. Dan puncaknya ketika Metromini mogok masal di bulan Desember 2015, yang hasilnya malah banyak orang seneng. Secara bisnis, kami akan kupas menurut versi TMDOTCOM.

Sejarah Metromini.

Metromini awalnya adalah ide dari Founding Father Indonesia, Bapak Soekarno. Berawal di sekitar tahun 1962, Jakarta menjadi tuan rumah Pesta Olahraga Negara-Negara Berkembang atau Games of the New Emerging Forces (GANEFO). Kondisi angkutan umum saat itu cuma ada Oplet (yang kayak di pelem si Doel Anak Sekolahan tuh), dan bus kota yang ukuran besar.

Singkat cerita, sejak tahun 1976, metromini dinaungi oleh manajemen PT. Metromini.

Keunggulan.

Cepat: Metromini jelas bisa bergerak lebih cepat daripada bus lain.

Kapasitas: Dan memuat lebih banyak daripada oplet, mikrolet, bajaj. Sekitar 50-60 orang.

Ukuran: Dengan ukuran lebih kecil, otomatis daerah terpencil bisa dijangkau.

Pesaing.

Jaman Dulu: Oplet, Bis besar, Becak.

Jaman Sekarang: Angkutan online, bajaj, mikrolet, taksi, bis besar, ojek, busway.

Secara garis besar, inilah profil metromini.

Lalu, kenapa Metromini sekarang bukan lagi idola?

Dilihat dari segi bisnis. Setiap produk harus lah punya keunggulan dan perkembangan. Sementara dari segi marketing. Setiap produk harus punya nama yang baik di masyarakat.

Kami percaya, hadirnya pesaing bakal membuat produk yang anda ciptakan menjadi lebih baik dan nama kamu semakin didengar orang. Namun, hadirnya pesaing juga mampu membunuh bisnis kamu kalau tidak ada perkembangan positif.

Sistem manajemen dalam PT. Metromini menurut kami adalah alasan kenapa nama Metromini tidak menjadi baik di tiap tahun. Salah satu masalah krusial adalah sistem gaji yang berupa setoran. Artinya, ini membuat supir metromini mengejar target setoran hingga dapet selisih yang bisa mereka bawa pulang. Kalo udah gini, ya suka-suka aja yang penting dapet duit.

Kedua, sistem perekrutan supir. Kami jujur gak ngerti gimana cara rekrut, tapi rasa-rasanya sih, mereka gak pakai HRD. Tapi dari segi kualitas, kita tau lah supir nya kayak apaan.

Pengawasan. 

Dalam bisnis apapun, pengawasan adalah hal yang penting. Biar segala kegiatan berjalan dengan lancar. Harusnya, Metromini pun seperti itu. Harusnya..

Nah, dari semua yang dibahas diatas, ada satu hal yang paling krusial dari jatuhnya Metromini, yaitu, mereka “Lupa Posisi” mereka.

Lupa posisi, apaan tuh? Begini, kamu tahu kalau di Jakarta, semua angkutan umum itu brengsek. Dan yang masuk kategori brengsek adalah mikrolet, kopaja, bus besar, bajaj, ojek pangkalan, dan si metromini. Artinya, metromini tahu posisi nya adalah dia punya banyak temen. Dan semua temen nya brengsek. Sehingga, persaingan diantara mereka berjalan damai.

Lalu, muncul busway (Transjakarta) dengan segala fasilitas nya yang bagus dan sistem yang baik. Namun, metromini dkk nya tahu, busway belum bisa mengimbangi mereka. Kasus internal transjakarta itu banyak, plus armada mereka belum bisa menampung orang se-Jakarta. Begitupun dengan taksi, harga mahal, dan kena macet di jalan.

Hingga muncul kendaraan online. Macem Gojek, Grab Taxi, Grab Bike, Uber. Inilah titik balik Metromini dijauhi. Secara logika, mana ada orang mau naik kendaraan yang panas dan berbahaya. Tampaknya CEO Metromini tidak berpikir secara logika dan keenakan di zona nyaman.

Kesimpulan: 

1. Jangan terlena

2. Lihat potensi pesaing kamu

3. Berkembang ke arah positif.

Ada yang mau nambahin? Share di kolom komentar ya.

 

 

 

 

 

 

Btw, kami pernah membahas gimana cara memasarkan kendaraan umum agar warga pindah dari mobil pribadi. Cek di: Agar Kendaraan Umum Diminati Masyarakat.

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*